FESTIVAL ENDHOG-ENDHOGAN BERLANGSUNG MERIAH

FESTIVAL ENDHOG-ENDHOGAN BERLANGSUNG MERIAH

BANYUWANGI-Memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyelenggarakan Festival Endhog-Endhogan.  Acara yang digelar tepat di depan kantor Pemkab Banyuwangi, (19/1/2016) berlangsung semarak. Berlangsung sejak pukul 15.00 WIB, ratusan Masyarakat antusias berkumpul di depan PEMDA Banyuwangi.

Seperti Festival Endhog-Endhogan tahun lalu, dalam acara ini tidak lagi mengedepankan pawai dan arak-arakan endhog-endhogan (telur), tetapi lebih menghidupkan dengan gema sholawat nabi. Sehingga peringatan Nabi Muhammad SAW ini dipenehi bacaan sholawat. Ribuan telur dan 400 ancak di bawa oleh masyarakat dan pejabat pemerintah yang ikut memeriahkan acara ini. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang terpusat di lima penjuru (perliman) pusat kota, kini perayaan festival diadakan di depan pemda dengan kesenian tarian Rodad Si’iran.

Acara di mulai dengan bertemunya arak – arakan ancak dan telur dari kedua sisi Jl. Ahmad Yani, dimana akan bertemu di pusat acara (Pemda Banyuwangi). Tarian rodad si’iran dengan balutan kostum warna warni mengiringi iring-iringan ancak.

Harapan dengan diadakan festival tahunan ini, agar masyarakat Banyuwangi senantiasa meneguhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dan mengikuti serta melaksanakan semua ajaran Nabi.

“ Harapan Pj.Bupati Banyuwangi yang disampaikan oleh Wiyono selaku Asisten pemerintah dalam sambutannya, agar kita dapat meneguhkan kecintaan kita kepada Nabi Muhammad dan melaksankan seluruh ajaran Nabi. Serta Bapak H.Fauzi selaku kasi bidang Kebudayaan Pariwisata Banyuwangi juga menyampaikan, harapan diadakannya festival Endog – endogan ini agar pemerintah dan masyarakat Banyuwangi di berikan keselamatan.

Festival Endhog-Endhogan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Kyai Haji Mahrus Ali. Masyarakat sangat antusias dengan Festival Endhog-Endhogan tahun ini.

Endog-endhogan merupakan tradisi masyarakat Banyuwangi yang telah dijalankan sejak puluhan tahun lalu. Beberapa literatur menyebutkan tradisi endhog-endhogan Maulid ini diawali 12 tahun setelah berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) yang tahun 1926 oleh tokoh agama dari Kecamatan Songgon, Banyuwangi.

Mengapa tradisi ini menggunakan endhog? Ini terkait dengan filosofi telur sendiri, di mana dalam telur memiliki tiga lapisan. Yakni, kulit (cangkang, Red), putih dan kuning yang ketiganya simbolisasi dari nilai-nilai Islam. Kulit bermakna Iman, Putih telur adalah Islam, dan Kuning diartikan Ihsan. Sebuah filosofi yang mendalam filosofinya.

Telur yang diarak biasanya ditancapkan pada jodang (batang pohon pisang-red). Karena, pohon pisang juga memiliki makna dan simbol kehidupan yang sangat bagus, dimana pohon pisang tak akan mati sebelum berbuah. Dan jika ditebas di dalamnya masih ada lapisan yang baru dan akan terus tumbuh. Inilah makna yang luar biasa dari tradisi endog-endhogan.

Sumber : banyuwangitourism.com