Parade Perahu Terbesar di Banyuwangi “Arung Kanal”

Menggelar Festival bersama – sama di tempat berbeda, tak menyurutkan masyarakat untuk menyaksikan. Berjarak 45 Km dari pusat kota Banyuwangi, Arungkanal Decarative boat sabtu malam 24/9 di padati masyarakat yang antusias sejak sore hari. Malam yang sama, event musik tradisional bertajuk Festival Lalare Orkestra juga dipadati penonton. Pemerintah  Banyuwangi juga memberikan fasilitas khusus bagi meraka yang tidak bisa menyaksikan langsung kedua festival dengan live streaming. Live streaming selalu disajikan di website www.banyuwangikab.go.id atau akun sosial media Youtube banyuwangikab disetiap gelaran Banywuangi festival.

Dinamakan arung kanal, arung “mengarungi” dan kanal ” sungai yang membelah Desa di Bangorejo”. Arun Kanal perahu hias yang menjelajah sepanjang sungai Sampeyan. Tidak seperti biasa festival perahu hias yang dilaksanakn di Laut, kali ini di laksankan di Sungai. Tradisi yang dilaksankan dua tahun sekali ini selalu mendapat sambutan meriah dari penonton. Sepanjang sungai sampeyan mulai sore hari sudah berjajar penonton untuk menunggu perahu hias unjuk kebolehan diatas sungai.

Berbagai Replika Perahu unjuk kebolehan layak Aslinya. Replika Kapal pesiar, kapal layar, kapal penumpang, kapal Tongkang, dan kapal Dewaruci tampil menyemarakkan festival Arung Kanal. berbagai ornament dan aksesoris berhiaskan lampu menyinari perahu layaknya kota berjalan.

Perahu-perahu tersebut memiliki ukuran yang beragam, mulai yang besar, sedang hingga kecil. Perahu besar memiliki panjang 20-30 meter, perahu sedang 15-20 meter, dan perahu kecil 10-15 meter. Kapal-kapal tanpa mesin tersebut merupakan peserta Festival Arung Kanal Decorative Boat yang digelar di Desa Kebondalem, Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi.Kapal ini dikerjakan warga dengan cara berkelompok. Masing-masing kelompok, ada yang sengaja membuat perahu baru atau sekedar memperbaiki perahu mereka yang sudah ada. Semua itu mereka persiapkan secara swadaya.

Lomba perahu hias adalah tradisi masyarakat Dusun Tanjungrejo, Desa Kebondalem yang sudah dilaksanakan sejak akhir tahun 1960-an. Tradisi ini berawal dari lomba perahu dari batang pohon pisang bagi anak-anak untuk memperingati HUT kemerdekaan RI. Selain itu, tradisi ini juga wujud rasa syukur masyarakat setempat atas hasil panen yang melimpah.

Konon, air Sungai Sampean tidak pernah surut sepanjang tahun. Airnya selalu banyak dan jernih. Masyarakat di sana pun memanfaatkan air sungai tersebut untuk keperluan irigasi guna mengairi sawahnya. Hasilnya memuaskan, tanamannya subur sehingga masyarakat selalu memperoleh hasil panen yang melimpah.

Sementara itu, ketua penyelenggara festival arung kanal, Syahman Mahadi, menyampaikan untuk mensukseskan festival ini panitia dan masyarakat saling menjalin sinergi. Mulai dari renacana pelaksanaan hingga pembiayaan. “Kami berupaya maksimal agar acara ini sukses tanpa hambatan. Agar ringan, panitia memberi bantuan kepada setiap peserta. Rp. 10 juta kepada 8 peserta pembuat perahu besar, Rp.7 juta untuk 3 perahu sedang, dan Rp. 4 juta untuk 2 perahu kecil. Total Rp.109 juta yang kami siapkan. Dana ini dianggarkan dari APBDes dan swadaya masyarakat,” kata Syahman.

Tradisi arungkanal berlangsung selama dua hari, sebelumnya dilaksanakan ritual BALANG APEM. Ritual ini kali pertama diprakarsai oleh seseuh adat setempat. Mbah tukiran 76, yang hingga kini dituakan oleh masyarakat Temurejo, Desa Kebondalaem, Kecamatan Bangorejo.

Apem sendiri adalah kue yang terbuat dari campuran tepung dan santan kelapa, dimasak oleh warga satu rukun warga (RW).  Jumlah Apem tersebut mencapai 3.000 buah. Usai dimasak seluruh apem dimasukkan kedalam wadah besar dan terbungkus plastik untuk di bawa ke tempat pelaksanaan acara.

Balang sendiri yang berarti di lempar, sangat di tunggu oleh masyarakat terutama kaum muda atau jejaka. Uniknya Balang apem sendiri dilakukan oleh kaum wanita yang cantik didandani lengkap dengan kebaya. Sebelum prosesi Balang apem di mulai, seluruh kue Apem bersama tumpeng dibawa ke atas pentas yang terletak di seberang sungai untuk di doakan bersama yang dipimpin oleh sesepuh setempat.

Sebanyak 25 gadis desa rupawan sudah bersiap, setelah mereka diijinkan untuk melempar apem ke arah penonton di seberang sungai. Anak Gadis sengaja kita pilih yang cantik dan masih perawan, mereka di dandani dengan kebaya ala Jebeng Banyuwangi untuk menarik para jejaka.